PENILAI INDONESIA

Posts from the “Artikel” Category

Cara Menilai Kewajaran Harga Jual/Sewa Properti

Posted on October 31, 2016

Cara menentukan harga jual sebuah properti, apalagi di kota-kota besar, tidak dapat mengandalkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang tercantum di SPPT-PBB.  Hal ini dikarenakan NJOP hanya dapat digunakan sebagai patokan untuk memungut pajak, bukan untuk sebuah transaksi yang terjadi di pasar properti.  Adapun kecenderungan yang terjadi adalah NJOP lebih rendah daripada nilai yang seharusnya ada di pasaran.  Tentu Anda tidak mau rugi karena menjual/menyewakan properti Anda di bawah harga pasarannya, bukan? Untuk menilai kewajaran dari harga jual/sewa properti, maka kita perlu melakukan penilaian terhadap properti tersebut.  Yuk, kita lihat bagaimana cara melakukan penilaian tersebut sendiri. Misalnya Anda ingin menilai harga sewa sebuah rumah tinggal di daerah suburban, dan Anda tidak tahu apa-apa mengenai harga di daerah tersebut, maka Anda harus melakukan survei harga terlebih…

+Read more

Standar Penilaian Indonesia Edisi VI-2015

Posted on January 1, 2016

KPSPI telah menerbitkan Standar Penilaian Indonesia Edisi VI-2015 untuk menggantikan Standar Penilaian Indonesia 2013.  Standar Penilaian Indonesia atau SPI adalah Standar yang dipakai oleh Penilai untuk melakukan kegiatan penilaian di Indonesia. SPI bersifat wajib (mandatory) bagi semua Penilai yang melakukan kegiatan penilaian di Indonesia. Sifat wajib ini juga di atur di dalam Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).  SPI Edisi VI-2015 mulai efektif berlaku pada tanggal 1 Januari 2016. Tujuan SPI Standar Penilaian Indonesia memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut: Mendorong penilai untuk secara hati-hati menentukan dan memahami kebutuhan dan persyartan dari pemberi tugas, dan untuk memberikan kepastian kepada penilai bahwa penilai dibekali dengan suatu standar penilaian yang memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Memajukan penggunaan dasar penilaian dan sasumsi secara konsisten dalam penilaian dan…

+Read more

Perbedaan Standar Penilaian Indonesia 2013 dan 2007

Posted on December 9, 2013

SPI 2013 sudah diberlakukan sejak tanggal 1 November 2013 yang lalu.  Ada beberapa perbedaan yang signifikan dari Standar Penilaian Indonesia 2013 dengan pendahulunya, yaitu Standar Penilaian Indonesia 2007.  Artikel ini akan menunjukkan beberapa perbedaannya yang paling signifikan.  Apa saja perbedaan antara SPI 2013 dengan SPI 2007? Definisi Nilai Pasar (Market Value) yang meluas cakupannya.  Jika sebelumnya ditulis Nilai Pasar tersebut adalah “estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran sebuah properti…”, maka di dalam SPI 2013, kata properti diubah menjadi aset atau liabilitas.  Lengkapnya dalam SPI 2013, Nilai Pasar didefinisikan di dalam SPI 101-3.1 sebagai estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjual yang berminat menjual, dalam suatu…

+Read more

Bagaimana Cara Bank Menilai Harga Rumah? (Bagian 2)

Posted on September 25, 2013

Artikel ini adalah sambungan dari artikel Cara Bank Menilai Harga Rumah (Bagian 1).  Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi kita pada pendekatan yang kedua, yaitu Pendekatan Data Pasar. Pendekatan Data Pasar Sebenarnya, secara strata pendekatan, Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach) seharusnya berada di posisi tertinggi dari metode penilaian untuk menentukan Nilai Pasar (Market Value).  Market Data Approach – Market Value.  Dari kata-katanya saja, mengandung kata “Pasar” yang sama persis di sana.  Ini sebenarnya merupakan metode paling penting dari sebuah proses penilaian, tapi di Indonesia, laporan penilaian yang menggunakan pendekatan ini sebagai pendekatan utama tidak sebanyak yang menggunakan pendekatan biaya. Kedua pendekatan tersebut ada kelebihan dan ada kelemahannya, tapi kita akan membahasnya di kesempatan lain.  Sekarang kita bahas pendekatan data pasar terlebih dahulu.  Pendekatan Data…

+Read more

Bagaimana Cara Bank Menilai Harga Rumah? (Bagian 1)

Posted on September 18, 2013

Ketika Anda mengajukan pinjaman kredit kepada bank, Anda diminta untuk memberikan jaminan atau agunan untuk meminimalisasi resiko macet dan kerugian di pihak bank.  Begitu pula jika Anda sedang mengincar sebuah rumah untuk KPR, Anda meminjam dana kepada bank dengan agunan rumah yang Anda ingin miliki tersebut.  Di kedua kasus di atas, pihak bank akan melakukan “penilaian” atas rumah Anda, untuk dijadikan dasar dalam pengajuan kredit Anda tersebut.  Biasanya, plafon kredit tidak akan melebihi nilai agunan, bahkan seringkali dikurangi safety factor dari bank itu sendiri, misalnya menjadi 70% sampai 90% dari nilai agunan. Mungkin Anda penasaran bagaimana cara bank menilai harga rumah, atau rumah Anda baru saja dinilai oleh pihak appraisal atau penilai dan nilainya ternyata di bawah ekspektasi atau harapan Anda, dan Anda bertanya-tanya…

+Read more